Best views

Kamis, 19 Januari 2012

Akai, Si Sprei Merah


 “Kemana akai?” Teriakku di kamar. Wajahku panik dan keringatku mengucur di pelipis. Dua orang saudara kandung yang tengah khusyuk di depan TV hanya menoleh kemudian konsesntrasi penuh lagi ke depan TV.

Akai dalam bahasa Aceh berarti akal, sementara dalam bahasa Jepang berarti merah. Akai yang aku maksud ini adalah warna merah. Ya, ini nama untuk sprei yang aku beli secara online dengan harga 600 ribu.

“Akaiiii...” Teriakku lagi.

Mereka masih ngadem di depan TV. Nggak peduli dengan teriakan panikku. Kubuka lemari, tumpukan bantal di kasur dan di setiap sudut yang kitra-kkira berpotensi tempat akai bersembunyi.  Dimana, dimana, dimana?

“Aku miskol ya kak?” Kata seorang di antara dua makhluk Tuhan itu.

Awalnya aku cuek saja. Menganggap mereka hanya bercanda. Tapi begitu melihat ponselku berdering dan suara Katy Perry mengalun, baru aku sadar. Mereka salah mengerti. Dia pikir akai itu nama hape Samsung-ku.

“Itu murasaki” Teriakku masih tetap panik.

“Oh, murasaki ya? Jadi akai itu apa? Kotak pensil? Laptop?”

“Bedcover yang komplet sama spreinya”

Aku sukses menangis. Siapa yang tega mengambil akaiku. Semoga ia disediakan tempat istimewa di neraka.

Pasti tak ada yang tahu kalau akai itu bentuk kenangan terakhirku di Fakultas Dakwah. Akai aku beli dengan harga segitu. Padahal harga aslinya tidaklah semahal itu. Hanya seratus sekian, kalau tambah bedcover-nya juga Cuma dua ratus sekian. Lho? Kok 600 ribu? Ya, karena mahal di ongkos kirim.

Bagi sebagian orang sayang sekal uang sejumlah setengah juta lebih itu untuk sebuah sprei. Padahal aku bisa membeli dua atau tiga buah sprei lagi yang bagus malahan. Tapi aku suka sekali dengan motifnya, makanya aku membeli si akai ini.

Begitu aku mendapat beasiswa, sprei ini langsung aku order dan aku jadikan penghuni lemari yang paling aku sayang. Karena akai adalah isi lemariku yang paling mahal.

Kuraih hapeku, aku mengetik sms untuk seseorang. Akai hilang. Hiks.

Kirim.

Sekitar lima menit kemudian sms balasan masuk ke hapeku. Dari seseorang itu.

Akai?



Ya ampun...!!

Orang terdekat saja tak tahu siapa akai. Aku jelaskan padanya bahwa akai adalah sprei kesayanganku. Selimutnya hilang barusan. Di kamarku.

Sedikit panik aku membuka pintu ruang tamu dan menuju ke teras. Ingin menangis di sana. Tapi aku melihat apa yang tak harusnya akau lihat.

“Akaiiiii!!!” Pekikku.

Sprei itu dengan manis bertengger di jemuran. Baru ingat, ternyata aku menjemur Akai pagi tadi untuk menghangatkannya. Tujuannya biar tidur nyenyak malam ini.

Majalah dan Bonus


Kalau ada orang bela-belain beli majalah untuk isi atau artikelnya, aku kayaknya lebih kepada bonusnya. Bagaimana nggak, bila aku melihat ada majalah yang bonusnya sedikit menggiurkan aku pasti beli.

Dulu, pada jaman-jaman berseragam abu-abu, aku selalu beli majalah dengan harga sampai dua puluh ribuan (masa sekolah 20 ribu itu setara 80-an sekarang). Bukan karena isinya yang lumayan bagus. Malah tergolong nggak berbobot karena Cuma membahas hantu-hantu nggak jelas. Maklum, dua tahun belakangan saat aku masih berseragam masa-masa trend dengan dunia lain atau sejenisnya.

Aku selalu menunggu edisi selanjutnya. Mulai dari poster, map, tas sampai agenda. Nah, kalau sekarang aku paling suka jika bonusnya agenda atau notes. Setiap majalah yang menawarkan bonus itu pasti aku beli. Aku simpan. Koleksi.
 
Isi dompet boleh sekarat, tapi kalau berhubungan dengan bonus berbentuk buku atau agenda, aku tidak akan tahan. Rela ngutang.

Terkadang aku berpikir untuk merubah kebiasaan buruk ini. Ingin lebih berhemat uang saku. Nyatanya nggak bisa (belum bisa). Tetap saja liurku netes begitu melihat benda bernama agenda.

Malah dalam membeli apapun aku jarang memperhitungkan untung rugi. Aku lebih tergiur kepada bonusnya. Nah, kalau aku pikir-pikir ini bisa dikatakan strategi pemasaran yang berhasil. Orang marketing majalah atau produk tertentu pasti senang dan kaya bila semua konsumen seperti aku.

Masih ingat tentang bonus lipstick triple core Oriflame?. Kalau belum tahu, silahkan baca “Batal Ngejar WP” (hehehe, maksa!). sepertinya akan terulang untuk kedua kalinya. Aku akan berlangganan majalah hanya karena berharap hadiah berupa tas santai model selempang dan organizer dari bahan denim.

Oh, tidak!

Pembaca, tolong beri masukan untukku. Bagaimana mengubah kebiasaan terbius tawaran bonus yang belum tentu jelas ini.